Postingan

Mahasiswa Psikologi, Peminatan Apa?

Kalo di tempat saya belajar sih, peminatan baru diputuskan saat kita memasuki semester enam atau pada tahun ketiga kita kuliah. Well, saya baru saja memasuki semester enam dan baru saja melewatkan hari hari terbimbang setelah pemilihan jurusan SMA dan jurusan kuliah. Kiranya proses "memilih" yang akan terjadi dalam hidup bakal selesei dua tahun lalu di pemilihan jurusan perkuliahan. Eh ternyata pas da dapet kuliah pun masih perlu "memilih" lagi. Oke, disini saya hanya berbagi pengalaman yang saya lewati. Murni tidak untuk memberikan pengaruh atau apapun, cuma mau berbagi.  Awal semester saya ga paham, bener bener ga paham kalo ternyata pada nantinya kita diharuskan untuk memilih peminatan. Wajar lah ya anak masi suci, masi beloon, anak semester 1. Masuk semester tiga, mulai paham dengan dunia psikologi, mulai meraba raba lah kiranya nanti mau peminatan mana. Dan disinilah saya memiliki keputusan sebesar 60% untuk memilih peminatan PIO atau Psikologi Ind...

Kalkulus

Kaki di atas tanah Hati tetap pada tempatnya Perasaan tak bisa dibodohi Perilaku itu dapat disembunyikan Ucap kata dapat direncanakan Menghindar bukan berarti menolak 99% indikasi menerima dengan cara tersendiri Diam bukan berarti tidak Tidak mau Tidak menerima Tidak berharap Tidak menunggu

Milky Way

Siapa yang tidak teringat dengan cerita Rangga dan Cinta yang akhirnya terualas kembali setelah empat belas tahun? Empat belas tahun. Tak hanya cerita Rangga dan Cinta yang membekas dalam empat belas tahun ke belakang. Empat belas taun yang lalu pula aku....aku tak tau apa yang terjadi padaku namun yang kutau pasti, beberapa detik lalu aku masih berdiri di depan roti bertumpuk dengan lilin yang berbentuk angka 1 dan angka 4. Oh, apakah ini yang dinamakan ulang tahun? Oh iya benar, sepertinya aku baru saja merayakan ulang tahunku yang ke empat belas tahun. Kemudian, apa yang membuatku berdiri disini? Disini sepi, hening tenang, dan aku hanya bisa melihat langit-langit di sekitarku. Ada apa dengan otakku, kenapa aku tak dapat mengingatnya, oh aku benci dengan IQ ku yang rendah ini. Hish menyebalkan sekali. “Bintang jatuh! Make a wish!” Suara itu benar-benanr mengagetkanku dan membuat seluruh bulu tubuhku berdiri semua. Aku panik, apakah itu suara dari seorang makhluk hidup atau... s...

Edelweiss

Sudah delapan tahun aku meninggalkan negara ku sendiri ini. Kini saat nya aku untuk kembali. Kembali dalama suasana Indonesia. Kembali pada keluarga terhangatku di sini. Juga kembali merobek pengalaman terpedih ku disini pula. Dulu aku punya hak untuk berlari ke negara orang untuk bersembunyi dan melarikan diri dari Fachri dan dari mama. Namun sekarang, justru aku yang kembali dan berlari mengejar Fachri ke Indonesia. Jelas ada perbedaan antara dulu dan sekarang. Apa itu bedanya, aku juga belum bisa menjelaskannya. Satu hal yang harus kupastikan ketika bertemu Fachri di pengadilan nanti.   “Tama dimana? Apa dia baik-baik saja? Dia sudah meminum obat yang selalu aku berikan untuk dia bukan, tak?” tanya ku pada gadis cantik berpakaian seragam putih abu-abu di hadapan ku. “Kenapa kamu baru kembali? Kenapa ngak skalian aja kamu menghilang dari rumah ini? Hah?” suaranya meninggi, mata nya sembab. Hanya punggung yang ia tampak kan padaku. Aku hanya terdiam. Ludah ku serasa gemetar...

Turtle 1

Aku bertumpu pada sesuatu hingga pada titik aku takut kehilangan sampai membuat semua ragaku gemetaran. Kenapa aku ini?

All Alone

kringg ... 1 message received  Jovian Putra  "Susah disini. Aku ingin lari saja" Jovian. Teman cowok satu SMA ku yang banyak dianggap annoying di mata anak-anak lain. Namun buaat ku, itu bukan hal yang terpenting dalam menjalin sebuah pertemanan. Sekarang, waktu SMA ku telah habis, saat ku untuk menjalani hidupku dalam dunia perkuliahan. Sama juga dengan Jovian. Kampus Jovian memulai perkuliahan lebih dulu dibanding dengan kampus ku. Saat Jovian mengirimkan pesan teks tersebut, aku sedang menikmati indahnya jalanan kota Bandung. Aku masih sangat menikmati masa-masa kuliah ku saat itu. Tapi aku rasa, itu berbeda dengan Jovian yang sedang berpacu dengan ilmu kedokteran hewan nya di Depok.  Satu bulan, dua bulan, tiga bulan berlalu. Aku rasa, apa yang di ucapkan oleh Jovian kala itu mulai kumengerti. Hari itu aku membalas pesan teks yang dikirimkan Jovian kepada ku. Kami banyak berbicara disitu namun, sepertinya hanya aku yang menjadi pembaca sejati dari teks-teks...

Abandon

"Pegang tangan ku. Seberapa leganya dirimu untuk hal ini? Seberapa sedihnya  ketika doa mu belum mendapat jawaban? Masih kah kamu takut? Dengan banyak bintang yang bersama kita malam ini. Masih adakah alasan untuk mu tetap takut?" Tiba-tiba terdengar serik suara seorang pria sekitar 20 centimeter di belakang ku. Aku tidak yakin itu siapa, Namun aku rasa itu dia, dia yang.. Kuberanikan diriku untuk menoleh 180 derakat dari arah ku sekarang. Sesak di dadaku masih terasa. Basahnya pipiku masih terasa. Air mataku masih terlihat jelas menghiasi wajah cantik ku. Raga ku masih utuh. Namun jiwaku sudah benar-benar rapuh. Penolakan beberapa ptn yang aku dapati beberapa membuat ku kehilangan kekuatan. Kekuatan ada untuk dirasakan. Aku tau itu. Namun kali ini, kekuatan ada untuk saling melengkapi. Bagiku, hal-hal sesulit ini akan menjadi mudah jika kita bersama. Bersama dengan... Siapapun.  "Vian!" Kaki ku terasa lumpuh. Tegapku terjatuh tepat 5 centimeter di depan tubu...