Postingan

TIPS ALA ILEN : Cara Jalan-jalan Tapi Hemat

Akhir minggu kali ini saya mengajak kedua rekan saya dari grup LINE “internal bukan kampus” untuk bermalam di tempat saya dan menghabiskan waktu 24/7 bersama sama. Tapi kemarin itu akhir bulan, dilemanya, kedua teman saya ini lagi “bokek” tapi keinginan untuk jalan jalan tinggi, karena lagi barengan kan kalo jalan asik. Hmmm. Tulisan ini terinspirasi murni dari kejadian pribadi. Tips yang saya cantumkan disini juga tidak memiliki ke valid an yang tinggi. Sekali lagi saya bukan dewa ataupun dewi, semua kata-kata yang saya bagikan ke kalian tidak mutlak untuk sepenuhnya dipercaya yhaa. Kalian saring aja yang menurut kalian, kalian setuju dan lupakan saja jika kalian tidak setuju. Simpel yaa? Saya tanggung jawab dengan informasi yang saya beri dan kalian tanggung jawab dengan informasi yang kalian saring. Be a Good Reader!! Syeeeapp ;))) Jadi drama minggu ini adalah temen-temen yang pada ngginep di kosan rewel minta jalan-jalan karena bosen belajar tapi mereka juga “sambat” kar...

Mahasiswa Psikologi, Peminatan Apa?

Kalo di tempat saya belajar sih, peminatan baru diputuskan saat kita memasuki semester enam atau pada tahun ketiga kita kuliah. Well, saya baru saja memasuki semester enam dan baru saja melewatkan hari hari terbimbang setelah pemilihan jurusan SMA dan jurusan kuliah. Kiranya proses "memilih" yang akan terjadi dalam hidup bakal selesei dua tahun lalu di pemilihan jurusan perkuliahan. Eh ternyata pas da dapet kuliah pun masih perlu "memilih" lagi. Oke, disini saya hanya berbagi pengalaman yang saya lewati. Murni tidak untuk memberikan pengaruh atau apapun, cuma mau berbagi.  Awal semester saya ga paham, bener bener ga paham kalo ternyata pada nantinya kita diharuskan untuk memilih peminatan. Wajar lah ya anak masi suci, masi beloon, anak semester 1. Masuk semester tiga, mulai paham dengan dunia psikologi, mulai meraba raba lah kiranya nanti mau peminatan mana. Dan disinilah saya memiliki keputusan sebesar 60% untuk memilih peminatan PIO atau Psikologi Ind...

Kalkulus

Kaki di atas tanah Hati tetap pada tempatnya Perasaan tak bisa dibodohi Perilaku itu dapat disembunyikan Ucap kata dapat direncanakan Menghindar bukan berarti menolak 99% indikasi menerima dengan cara tersendiri Diam bukan berarti tidak Tidak mau Tidak menerima Tidak berharap Tidak menunggu

Milky Way

Siapa yang tidak teringat dengan cerita Rangga dan Cinta yang akhirnya terualas kembali setelah empat belas tahun? Empat belas tahun. Tak hanya cerita Rangga dan Cinta yang membekas dalam empat belas tahun ke belakang. Empat belas taun yang lalu pula aku....aku tak tau apa yang terjadi padaku namun yang kutau pasti, beberapa detik lalu aku masih berdiri di depan roti bertumpuk dengan lilin yang berbentuk angka 1 dan angka 4. Oh, apakah ini yang dinamakan ulang tahun? Oh iya benar, sepertinya aku baru saja merayakan ulang tahunku yang ke empat belas tahun. Kemudian, apa yang membuatku berdiri disini? Disini sepi, hening tenang, dan aku hanya bisa melihat langit-langit di sekitarku. Ada apa dengan otakku, kenapa aku tak dapat mengingatnya, oh aku benci dengan IQ ku yang rendah ini. Hish menyebalkan sekali. “Bintang jatuh! Make a wish!” Suara itu benar-benanr mengagetkanku dan membuat seluruh bulu tubuhku berdiri semua. Aku panik, apakah itu suara dari seorang makhluk hidup atau... s...

Edelweiss

Sudah delapan tahun aku meninggalkan negara ku sendiri ini. Kini saat nya aku untuk kembali. Kembali dalama suasana Indonesia. Kembali pada keluarga terhangatku di sini. Juga kembali merobek pengalaman terpedih ku disini pula. Dulu aku punya hak untuk berlari ke negara orang untuk bersembunyi dan melarikan diri dari Fachri dan dari mama. Namun sekarang, justru aku yang kembali dan berlari mengejar Fachri ke Indonesia. Jelas ada perbedaan antara dulu dan sekarang. Apa itu bedanya, aku juga belum bisa menjelaskannya. Satu hal yang harus kupastikan ketika bertemu Fachri di pengadilan nanti.   “Tama dimana? Apa dia baik-baik saja? Dia sudah meminum obat yang selalu aku berikan untuk dia bukan, tak?” tanya ku pada gadis cantik berpakaian seragam putih abu-abu di hadapan ku. “Kenapa kamu baru kembali? Kenapa ngak skalian aja kamu menghilang dari rumah ini? Hah?” suaranya meninggi, mata nya sembab. Hanya punggung yang ia tampak kan padaku. Aku hanya terdiam. Ludah ku serasa gemetar...

Turtle 1

Aku bertumpu pada sesuatu hingga pada titik aku takut kehilangan sampai membuat semua ragaku gemetaran. Kenapa aku ini?

All Alone

kringg ... 1 message received  Jovian Putra  "Susah disini. Aku ingin lari saja" Jovian. Teman cowok satu SMA ku yang banyak dianggap annoying di mata anak-anak lain. Namun buaat ku, itu bukan hal yang terpenting dalam menjalin sebuah pertemanan. Sekarang, waktu SMA ku telah habis, saat ku untuk menjalani hidupku dalam dunia perkuliahan. Sama juga dengan Jovian. Kampus Jovian memulai perkuliahan lebih dulu dibanding dengan kampus ku. Saat Jovian mengirimkan pesan teks tersebut, aku sedang menikmati indahnya jalanan kota Bandung. Aku masih sangat menikmati masa-masa kuliah ku saat itu. Tapi aku rasa, itu berbeda dengan Jovian yang sedang berpacu dengan ilmu kedokteran hewan nya di Depok.  Satu bulan, dua bulan, tiga bulan berlalu. Aku rasa, apa yang di ucapkan oleh Jovian kala itu mulai kumengerti. Hari itu aku membalas pesan teks yang dikirimkan Jovian kepada ku. Kami banyak berbicara disitu namun, sepertinya hanya aku yang menjadi pembaca sejati dari teks-teks...